PERAN GURU DI SEKOLAH TERHADAP KOMUNIKASI ANAK AUTIS
Jadi, beberapa waktu yang lalu saya di wawancara oleh salah seorang rekan kerja saya guna menyelesaikan skripsinya. Demikian format wawancara dan jawaban saya.
FORMAT WAWANCARA
oleh: Dede Srinopianti
- Menurut Ibu, apa yang dimaksud komunikasi anak autis itu?
- Bagaimana pengalaman Ibu dalam menghadapi komunikasi anak autis?
- Metode apakah yang sering ibu gunakan dalam manghadapi komunikasi anak autis?
- Selama ibu menjadi pengajar anak autis, adakah dampak atau peningkatan yang terlihat dalam komunikasi anak autis?
- Adakah cara khusus atau kiat yang Ibu terapkan agar terjadi komunikasi dua arah antara anak autis dengan orang-orang di sekitarnya ( guru dan teman ) di sekolah ?
- Menurut ibu, peran guru yang seperti apa yang diterapkan selama proses pembelajaran terhadap komunikasi anak autis?
- Media apakah yang Ibu gunakan dalam proses pembelajaran agar memudahkan dalam berkomunikasi dengan anak autis?
- Adakah pemberian reward jika anak autis melakukan komunikasi yang baik dengan lawan bicara? Seperti apa bentuknya?
- Komunikasi bentuk apakah (verbal/nonverbal) yang sering ibu gunakan dalam berkomunikasi dengan anak autis?
- Adakah target yang Ibu terapkan dalam menggunakan satu metode ke metode lainnya dalam rangka meningkatkan komunikasi anak autis?
- Apakah ada Punishment yang di berikan, jika komunikasi anak autis tidak sesuai dengan yang ditargetkan dalam pembelajaran?
- Menurut Ibu, metode apakah yang paling tepat dalam mengha dapi komunikasi anak autis?
- Apakah Ibu selalu meng gunakan media yang sama dalam setiap pembelajaran?
- Media apakah yang paling tepat sehingga pembelajaran mudah di fahami oleh anak autis?
- Bentuk reward apakah yang paling memotifasi sehingga anak autis melakukan perubahan, khususnya dalam berkomunikasi?
jawaban :
- Komunikasi anak autis dapat dikatakan sebagai kemampuan anak untuk membiarkan orang lain mengetahui apa yang diinginkan anak tersebut, menjelaskan tentang sesuatu kepada orang lain, serta untuk mengetahui sesuatu dari orang lain.Komunikasi anak autis merupakan suatu aktivitas sosial dengan orang lain untuk dapat saling bertukar informasi. Karakteristik komunikasi anak autis memiliki kecenderungan perkembangan bicaranya lambat atau sama sekali tidak berkembang dan tidak ada usaha mengimbangi komunikasi dengan cara lain (jika anak bisa berbicara), Sering juga anak autis berbicara tetapi bicaranya bukan untuk komunikasi, Anak juga sering menggunakan bahasa yang aneh dan berulang, ekspresi wajah datar, ridak menggunakan bahasa atau isyarat tubuh, jarang memulai komunikasi, berbicara sedikit atau tidak ada sama sekali, membeo kata, intonasi bicara aneh, tampak tidak mengerti kata, serta mengerti dan menggunakan kata secara terbatas.
- Pengalaman saya menghadapi anak autis itu biasanya anak autis itu membeo atau ekolalia yaitu mengulang-ulang kata yang sama, ananda berulang-ulang menyebutkan nama-nama orang yang menarik perhatiannya, setiap pembahasan pasti ananda tersebut tiba-tiba mengulang-ulang nama tersebut meskipun tidak ada sangkut pautnya dengan pembicaraan tersebut. Kontak mata yang dilakukan pun sedikit dan ananda juga kurang ketahanan komunikasinya. Sering ananda nampak tidak mendengarkan atau menyimak tetapi sebenarnya ananda mengerti maksudnya, ananda terkadang kurang responsif dengan komunikasi yang dilakukan. Perlu mengadakan kontak mata terlebih dahulu untuk mengefektifkan komunikasi
- Metode yang digunakan diawali dengan meningkatkan interaksi dan kontak mata dengan ananda, menggunakan simbol-simbol dengan gambar-gambar, isyarat-isyarat dan meningkatkan kemampuan verbalnya secara konsisten dan berulang.
- Ada, kemampuan verbal ananda menjadi lebih baik dari sebelumnya satu kalimat hanya dua kata menjadi 3 kata dalam satu kalimat.
- Yang penting adalah kontak mata dan konsistensi dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan ananda, menjaga kedekatan dengan ananda.
- Guru yang dibutuhkan dalam pembelajaran anak autis adalah guru yang konsisten dalam melakukan proses komunikasi dan aturan pembelajaran.
- Media yang sering digunakan adalah media gambar (simbol), kata kunci, dan media-media visual yang real.
- Reward ada, tetapi selain reward juga perlu menggunakan penguatan positif karena reward kadang juga dapat membuat ananda ketergantungan terhadap reward tersebut, penggunaan reward juga lama-kelamaan perlu dikurangi dan dihilangkan supaya ananda tidak ketergantungan dengan reward.
- Saya menggunakan komunikasi total, kombinasi antara komunikasi verbal dan norverbal serta menggunakan segala aspek komunikasi.
- Targetnya ananda dapat mencapai target capaian awal pembelajaran, jadi apabila ananda tidak dapat mencapai target awal dengan suatu metode yang sudah di “treat” secara maksimal maka perlu dicoba menggunakan metode lain yang lebih sesuai dengan target capaian pembelajaran.
- Punishment ada, tetapi sama halnya dengan reward, nantinya perlu dikurangi dan dihilangkan supaya ananda todak ketergantungan dengan reward dan punishment tersebut.
- Pembelajaran anak autis memang memerlukan metode behaviouristik seperti reward and punishment, namun perlahan reward dan punishment tersebut perlu dikurangi saat anak sudah menjadi terbiasa. Penggunaan metode behavioristik pun tidak dapat berdiri sendiri. Tidak ada metode yang secara mutlak tepat untuk anak autis, semuanya dikembalikan lagi dengan kondisi tiap individunya.
- Penggunaan media selalu berbeda, tergantung dengan kebutuhan pembelajaran, kemampuan dan kebutuhan ananda.
- Media- media yang real dan media visual biasanya lebih sering saya gunakan. Tetapi media yang paling tepat adalah media yang disesuaikan dengan kebutuhan.
- Tidak selalu, tetapi kalau ada seminarnya dan memang bisa saya ikuti maka saya ikuti.
- Reward yang paling memtotivasi biasanya tergantung pada anandanya tersebut, reward yang efektif adalah sesuatu yang menarik perhatian ananda atau memang disenangi ananda
Komentar
Posting Komentar