RESENSI BUKU "TADARUS CINTA BUYA PUJANGGA"



Judul                : Tadarus Cinta Buya Pujangga
Penulis             : Akmal Nasery Basral
Penerbit           : Salamadani
Tahun terbit     : 2013
Cetakan           : 1
Tebal buku      : 380 halaman

Buku ini merupakan Novel biografi yang ditulis oleh Akmal Nasery Basal, menceritakan tentang  Haji Abdul Malik Karim Abdullah. Nama tersebut mungkin asing bagi masyarakat, Buya HAMKA, begitulah beliau biasa dikenal masyarakat. Buku  ini menceritakan tentang masa kecil Buya Hamka sampai usianya sekitar 30 tahunan. Buya Hamka diceritakan mengalami banyak kesulitan hidup pada usia yang masih relatif muda namun memiliki cara dan pola pikir sendiri dalam menghadapinya. Perceraian ayahnya yang merupakan ulama tersohor masa itu, yaitu Haji Rasul dengan ibunya membuat Buya Hamka kecil menjadi seorang “pemberontak cilik”.

Buya Hamka tumbuh sebagai seorang anak yang kebingungan menerima aturan keluarga, Malik kecil tinggal dengan keluarga ibunya yang notabene berisikan pemangku adat Sumatera Barat, mendidiknya dengan aturan-aturan adat yang banyak bertentangan dengan aturan ayahnya yang seorang ulama Islam dengan latar belakang ulama besar  turun temurun. Buya Hamka beberapa kali kabur dari rumah dengan persiapan minim, bahkan kabur hingga ke tanah suci untuk menjalankan ibadah Haji pada usia sekitar 17 tahun bermodalkan nekat. Penulis mengajak pembaca untuk terlarut dalam suasana dan lokasi-lokasi yang ditempati Buya Hamka.

Masa remaja Buya Hamka diceritakan penulis sebagai seorang penulis cerdas, padahal beliau tidak pernah menandaskan pendidikannya di Sekolah Desa. Tulisan beliau selalu  menjadi booming dan memiliki pengaruh yang besar bagi masyarakat. Beliau menjadi penuis yang digemari banyak kalangan termasuk kaum wanita, maka dikenallah beliau sebagai seorang pujangga. Sebelumnya, memang Buya Hamka juga diceritakan sebagai lelaki yang pandai memikat hati wanita.  Gaya kepenulisan  Buya Hamka dianggap menjadi angin segar disaat maraknya polemik politik masa itu, dari mulai artikel, cerpen di surat kabar hingga Novel “Laila Majnun” dan “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” . Tulisan-tulisannya tidak hanya menuai pujian tapi juga kritikan dari berbagai pihak, mengingat beliau adalah seorang ulama namun gemar menulis cerita-cerita roman percintaan.

Kisah perjalanan Malik kecil hingga menjadi seorang Buya yang tidak mulus dan bertubi-tubi menempanya menjadi sosok yang diwatakkan oleh penulis sebagai seorang berkarakter kuat, berani, cerdas, memiliki pola pikir tersendiri. Seiring dengan berjalannya waktu, digambarkan Buya menjadi sosok yang kian mendewasa dan perpikiran panjang. Dan  kini Malik kecil sudah dikenal masyarakat sebagai seorang ulama, pujangga, pejuang kemerdekaan, dan akademisi.

Yang menarik adalah buku ini diawali dengan kisah Buya Hamka yang diminta menjadi imam sholat Jenazah Presiden RI  pertama, Ir. Soekarno yang pernah memenjarakan beliau pada masa pemerintahannya. Buku ini juga menceritakan kilasan sejarah politik Indonesia, pertemanannya dengan Ir. Soekarno, dan perjalanan dakwah Buya Hamka dari Pulau sumatera hingga ke tanah jawa. Penulis bisa membuat pembaca larut dalam setiap suasana dan tempat yang diceritakan dalam perjalanan hidup Bua Hamka, menceritakannya dalam bahasa yang sederhana namun penuh makna. Cerita biografi yang biasanya menjemukan  menjadi menarik dan membuat rasa ingin tahu pembaca akan kelanjutan ceritanya di bab berikutnya. Penulis mengumpulkan potongan-potongan cerita usang Sang Buya dan menyajikannya dengan cara yang tak usang membuat kisah yang mungkin berat menjadi ringan dibaca.

Sayangnya, buku ini menceritakan penokohan Buya Hamka yang  dinovelisasikan sehingga sosok Buya Hamka yang dimunculkan terkesan terlalu heroik.  Buku ini juga hanya menceritakan biografi Buya Hamka sampai usia 30 tahunan sehingga pembaca masih dibuat penasaran dengan kelanjutan kisah Buya Hamka dan bagaimana beliau bisa sebigitu tersohornya hingga kini selain melalui tulisan-tulisannya.

Manfaat membaca buku ini menurut saya, selain kita mengetahui dan dapat mengambil banyak hikmah serta motivasi dari kisah hidup dan perjuangan Buya Hamka, buku ini  juga menambah wawasan kita tentang keislaman, kehidupan adat- adat dan alam Sumatera Barat, juga polemik politik Indonesia pada masa itu.

                                                                                                          Depok, 29 Agustus 2017

Arsi Nursetiani

Komentar