Pubertas Anak Autis

PUBERTAS ANAK AUTIS
Saat ini fenomena anak autis semakin banyak di temukan di masyarakat kita. Hal ini kadang menimbulkan berbagai pertanyaan dalam benak kita, apa itu autis yang sebenarnya ? Bagaimanakah kehidupannya ?Apa perkembangannya sama dengan anak-anak lain? Bagaimana masa pubertasnya? Apakah ia juga merasakan jatuh cinta ?  dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tidak bisa dijawab dengan mudah. Fakta ini mendorong saya untuk membuat sebuah tugas makalah dengan tema masa pubertas yang dialami anak autis. Istilah Autisme, hingga kini masih banyak di masyarakat yang belum mengenal secara baik apa yang dimaksud anak autis, sehingga kemudian perlakuannya salah. Banyak asumsi yang keliru tentang anak autis.[1]
Gejala – gejala autisme biasanya muncul sebelum anak mencapai usia tiga tahun dan pada sebagian anak gejalanya sudah ada sejak lahir. Sebagian kecil penyandang autisme sempat berkembang normal, namun sebelum usia tiga tahun perkembangan terhenti, kemudian timbul kemunduran dan tampak gejala autisme[2] .Untuk mengetahui anak tersebut autis atau tidak diperlukan diagnosis dari para ahli. Orangtua juga seharusnya cermat dalam memperhatikan pertumbuhan anak. Tidak hanya terfokus pada perkembangan fisik, tapi juga aspek motorik, emosional, dan sosial anak. Pada kasus autis deteksi dini sangatlah penting.
Dapat disimpulkan bahwa anak autis adalah gangguan perkembangan kompleks pada anak yang terjadi sebelum usia tiga tahun yang ditandai denganadanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang perilaku, komunikasi dan interaksi sosial[3]. Autis adalah gangguan perkembangan pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan keterlambatan dalam bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi (verbal dan non-vebal) dan interaksi sosial [4]. Anak autis juga memiliki gangguan dalam pola bermain,perasaan dan emosi, dan persepsi sensoris
Pubertas adalah usia menjadi orang suatu periode dalam masa peralihan dari masa anak ke masa dewasa, meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan untuk mampu menjadi individu yang dapat melaksanakan tugas biologis berupa melanjutkan keturunannya atau berkembang biak.[5] Karakteristik masa pubertas anak autis berbeda-beda pada setiap individu. Ada yang sudah mengalami perubahan fisik dan dorongan seksual sejak usia 8 tahun, sementara yang lain terjadi sekitar usia 13-18 tahun. Bahkan ada pula yang awal 20-an tidak menunjukkan minat yang berarti. Diskusi awal mengenai topik ini sudah seharusnya dimulai saat anak berusia 10 tahun, kecuali anak tampak memiliki kebutuhan untuk itu di usia lebih dini.[6]
Secara fisik perubahan anak autis pada masa pubertas sama dengan anak-anak lain, namun perubahan emosionalnya cenderung lebih sulit prosesnya karena minat mereka terhadap lawan jenis sering ditentang oleh faktor lingkungan sehingga tidak ada informasi yang jelas. Atau justu mereka menarik diri sama sekali dari pergaulan karena tidak mampu menerjemahkan begitu banyak pesan tersirat dan aturan sosial yang membingungkan.
Permasalahan remaja pada masa pubertas terdiri atas beberapa elemen, yakni [7] :
2.3.1 Elemen biologi
          Elemen yang terdiri atas perubahan-perubahan pada tubuh remaja ataupun juga berupa kemampuan untuk bereproduksi.
2.3.2 Elemen kognitif
Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka denga mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya.
2.3.3 Elemen moral
Mulai adanya pertimbangan keabsahan pemikiran dan alternatif lainnya. Berkembang melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang dulu mereka percayai dan kenyataan sekitar, lalu mereka pikir perlu adanya rekonstruksi pola pikir.
2.3.4 Elemen psikologis
Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak, dimana suasana hati bisa berubah sangat cepat berubah. Ssecara psikologi perkembangan remaja meliputi berbagai segi, yaitu inteligensi, emosi, seksual, moral, dan religi.
Bicara tentang masa pubertas, pasti tak luput dari kisah-kisah cinta pada masa tersebut, karena pada masa itulah dimana seseorang merasakan mulai adanya gejolak-gejolak yang berbeda pada orang-orang tertentu. Pada masa ini pula kecemasan para orangtua meningkat, terlebih lagi pada orangtua anak autis. Orangtua mereka dibayangi akan ketakutan terjadinya pelecehan seksual, atau bahkan perilaku-perilaku si anak yang tidak seharusnya dilakukan, terlebih di tempat-tempat umum
Cinta adalah dahaga yang sempurna. Maka, biarkan aku berbicara tentang air kehidupan.[8] Cinta bisa datang pada siapapun, anak-anak, remaja, dewasa, bahkan kakek-kakek sekalipun. Napoleon Bonaparte yang gagah perkasa itupun takluk di hadapan Joshepine de Beauharnais yang merupakan seorang janda cantik. Cinta itu merupakan tema sentral yang tidak bosan untuk di perbincangkan dan mempunyai daya magis yang luar biasa kuatnya. Konon, setiap orang bisa menjadi kelimpungan jika sedang jatuh cinta. Jika cinta adalah lampu senter yang menerangi jalan seseorang, ia akan menunjukkannya apaarti keadilan, kemuliaan kata, kemurahan hati, dan ketaatan[9] Lalu, bagaimana keadaan anak autis yang sedang jatuh cinta ? Adilkah cinta itu untuk mereka?
Anak autis ingin mendapatkan seseorang dan jatuh cinta kepadanya. Mereka juga mempunyai perasaan kasih sayang terhadap sesama dan kadang merasakan jatuh cinta dengan lawan jenis. Hanya saja tidak pandai mengkomunikasikannya. Pada saat orang kebanyakan jatuh cinta untuk pertama kali, maka biasanya orang akan menyandarkan pada instingnya. Orang akan bisa merasakan apa yang di pikirkan si dia, sadar akan adanya suatu kontak, merasakan keinginannya. Namun, kenyataan ini tidak berlaku untuk anak autis, hal tersebut sungguh sulit baginya.
Setiap anak autis yang jatuh cinta mengalami reaksi yang berbeda pada setiap anak. Ada yang mengungkapkan secara tiba-tiba, ada yang terus memendamnya. Ia ingin perempuan atau lelaki yang ditemuinya mengetahui, bahwa meskipun cara bicaranya aneh dan kadang-kadang kesulitan, si perempuan atau si pria bisa mengerti apa yang mereka katakan.
Anak autis sangat selektif terhadap rangsangan, kemampuannya untuk menangkap isyarat dari lingkungan sangat terbatas [10] sehingga anak akan mengalami kesulitan dalam menangkap isyarat-isyarat lingkungan terhadap gejala masa pubertasnya, emosi yang sulit diterjemahkan oleh dirinya sendiri membuatnya kian menarik diri dan asyik sendiri, enggan menambah lingkp perhatian mereka.
Anak dengan autisme memiliki respons stimulasi diri yang tinggi sehingga menghabiskan banyak waktunya untuk menstimulasi dirinya sendiri, seperti halnya flapping, bertepuk tangan, dan memainkan jari- jemarinya. Karakteristik unik berupa menstimulasi diri sendiri ini pada masa pubertas beberapa anak autis akan beritransformasi kedalam bentuk onani/ atau masturbasi yang merupakan wujud dari dorongan seksual yang tak terekspresikan dengan baik, akibat tertolaknya anak autis ini di lingkungan. Hal ini akan menjadi tidak etis dan kurang bisa diterima masyarakat, terlabih apabila hal ini dilakukan di muka umum.
Orang tua adalah guru yang paling utama bagi anak, jangan melimpahkan tugas besar ini pada orang lain. Dalam mendidik anak autis yang harus dilakukan adalah keras di waktu yang tepat, baik di waktu yang tepat, sabar di waktu yang tepat,  juga tangguh di waktu yang tepat. Jangan terlalu memaklumi kelemahan Anda sehingga Anda justru memanjakannya. Ini adalah suatu hambatan baginya untuk maju.[11]
Anak autis membutuhkan banyak stimulus untuk memberikannya arahan terhadap apa yang harus ia lakukan karena mereka memiliki dunianya sendiri, tidak fokus dan, dan mengalami kesulitan dalam bersosialisasi jangan menginterogasi mereka dan mencari-cari kesalahannya, tapi dengarkanlah keluhan dan curahan hati mereka. Jangan pernah memberikan bahasa komando pada anak autis karena ini akan memutus komunikasi anak dan tidak mau lagi terbuka pada Anda. Dengan cara ini banyak anak autis yang dapat mengahdapi tantangan dalam masa pubertasnya.
Untuk menunjang masa pubertas anak autis perlu dibekali pendidikan seks. Tujuan pendidikan seks bagi individu autis adalah untuk membuat individu:
2.5.1 Sadar dan menghargai ciri seksualitas diri sendiri memahami perbedaan mendasar antara anatomi pria dan wanita, serta peran masing-masing gender dalam reproduksi manusia.
2.5.2 Mengerti perubahan fisik dan emosi yang akan dialaminya, termasuk masalah-masalah seperti menstruasi, mimpi basah, perasaan yang berubah- ubah, tumbuhnya bulu disekujur tubuh, perubahan bau badan dsb.
2.5.3 Memahami bahwa tidak ada seorang pun yang berhak melakukan tindakan seksual tanpa izin terhadap dirinya .
2.5.4 Memahami tanggung jawab yang terlibat bila kita memiliki keturunan.
2.5.5 Memahami bahwa cara-cara kontrol kelahiran (metode keluarga berencana) harus dilakukan, kecuali anak memang dikehendaki dan dapat dirawat dengan baik serta bertanggung jawab.
2.5.6 Memahami peran dan tanggung jawabnya dalam menjaga kesehatan diri dan orang lain tahu dan dapat mencari bantuan untuk masalah-masalah tertentu bilamana diperlukan (manakala terjadi pelecehan atau penularan penyakit). 
2.5.7 Memahami makna norma masyarakat mengenai perilaku seksual yang pantas di lingkungannya.
Proses pengajaran berbagai konsep abstrak (antara lain, ‘publik’ dan ‘pribadi’) paling efektif dilakukan melalui teknik :
2.5.8   Modeling  (memberikan contoh)
2.5.9   Penjelasan
2.5.10 Pengulangan (terus menerus / konsistensi). [12]
Misal, mengajarkan cara berpakaian, lakukan di tempat pribadi. Tutup pintu kamar mandi atau kamar tidur dan jelaskan kepada anak bahwa ini adalah perilaku yang pribadi, jadi kita harus menutup pintu. Kalau anak melakukan kekeliruan misalnya, menyentuh kelaminnya di supermarket ketika sedang menimbang buah, langsung katakan dengan suara yang tenang, “Menyentuh diri sendiri juga perilaku pribadi. Kita tidak menyentuh bagian tubuh pribadi di tempat umum.”  Kalau tidak mungkin menarik anak ke daerah yang tertutup, coba alihkan perhatiannya ke hal lain dan diskusikan masalah ini begitu Anda sampai di rumah.
Jadikanlah perilaku sebagai komunikasi. Perilaku menyimpang anak autis yang suliT dikendalikan akan sangat menganggu proses kehidupannya, menghentikan perilaku menyimpang tersebut tidaklah cukup tetapi kita  juga perlu mengganti perilaku menyimpang tersebut. Perilaku menyimpang terjadi karena sistem sensorisnya yang terganggu, sehingga anak tidak bisa mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan da anak tidak mengerti apa yang diharapkan[13]. Carilah arti dibalik perilaku tersebut dan juga sumber penyebab perilaku tersebut. Jangan dulu menarik kesimpulan apapun sebelum ada fakta yang nyata dari penyimpangan perilaku tersebut. Carilah gangguan sensoris terlebih dahulu, banyak perilaku yang menyimpang tersebut bersumber dari rasa ketidaknyamanan. Berikan arahan dengan cara yang positif, tidak dengan kalimat perintah. Berilah waktu bagi anak pada saat beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya, agar anak merasa nyaman dan bisa mengatur waktunya sendiri. Jangan memperburuk keadaan pada saat anak melakukan perilaku yang keliru, kritiklah anak dengan lembut. Jangan mendisiplinkan anak pada saat emosinya sedang tidak baik dan tidak terkontrol.




[1] Fauziah Rachmawati, Pendidikan Seks Anak Autis, (Jakarta: Elex Media Komputindo. 2006). h. 1-2
[2] Rini Hildayani, dkk, Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus, ( Jakarta: Penerbit Universitas terbuka,2008) .h. 113


[3] Disajikan dalam pembelajaran mata kuliah perspektif Anak Autis/ GPPh oleh Bapak Indra Jaya tahun 2013
[4] Disajikan dalam pembelajaran mata kuliah perspektif Anak Autis/ GPPh oleh Bapak Indra Jaya tahun 2013
[5] Fauziah rachmawati, Op.Cit, h.39-40
[6] Ibid,  h.41
[7] Ibid,  h. 44-46
[8] Moch. Fakhruroji, Tafsir Cinta, (Bandung : Mizan Bunaya Kreativa.2006)  h. 19
[9]Ibid, h. 29
[10] D.S. Prastyono, Serba-Serbi Anak Autis, (Jogjakarta : Diva Press.2008) h.25
[11] Aqila Smart, “Anak Cacat Bukan Kiamat, ” KATAHATI,  Jakarta : 2010, h.110-111
[13] D.S. Prastyono, Serba-Serbi Anak Autis, (Jogjakarta : Diva Press.2008) h. 33

Komentar